Laman

Jumat, 03 September 2010

Tuntutlah Ilmu Padi, Semakin Berisi, Semakin Merunduk



Tahukah kamu, dulu kita hanya seseorang bodoh yang tak mampu membaca ataupun berhitung, begitu sabarnya guru kelas 1 sekolah dasar kita, membantu membaca dan berhitung.

Lalu kemudian, kita berkacak pinggang di depan pintu sekolah dasar, mencoret-coret baju sekolah dan celana merah tersebut. Mencoba menantang dunia, bahwa kamu telah menyelesaikan 6 tahun yang membosankan. Siap melangkah ke masa putih-biru. Merasa menjadi dewasa.

Tahukah kamu, dulu kita bahkan tidak pernah mengerti tentang dasar-dasar trigonometri. Entah untuk apa kita pelajari ilmu perbandingan sudut tersebut, bagaimana menggunakannya. Untuk apa dipelajarinya.

Kemudian kembali di depan gerbang kompleks sekolah kamu, baju putih dengan lambang OSIS berwarna kuning, telah lulus dengan coretan, 100% lulus. Dan otak kamu dipenuhi perasaan bahwa, aku dewasa, kini aku memakai celana panjang. Bebas menebar cinta. Bebas bergaya seperti layaknya orang dewasa.

Tahukah kamu, bahwa dasar-dasar mekanika newton dan sedikit pembelajaran tentang dasar fisika modern, adalah momok yang menakutkan bagi sekalian pelajar bercelana abu-abu. Mimpi burukmu berkisar antara stoikiometri kimia dan irisan kerucut dalam pelajaran geometri matematika.

Lalu setelah 3 tahun, kamu kembali memunggungi gedung sekolahmu. Menggandeng wanita impianmu. Seperti layaknya orang yang baru saja memenangkan kejuaran dunia.

Kemudian, kamu berdiri di depan gedung kampus alma mater kamu. Perlahan tapi pasti, Pancasila, Kewiraan, Fisika Dasar, Kalkulus I, telah kamu lewati. Berlanjut dengan, Fisika Matematika, Elektromagnetisme, Kalkulus III, dan lain sebagainya. Hingga engkau berani menghadapi orang-orang yang menjadi doktor sebelum kamu dalam 30 menit persidangan atas 1 tahun kerja kerasmu dalam tugas akhir.

Lalu kamu berjubah toga, memakai topi persegi. Menggamit calon istri. Menenteng map ijazah. Seakan kakimu telah menginjak bumi dalam-dalam. Dan kamu di atasnya.

Tapi, tak ubahnya kamu seperti sapi. Diberi air, agar gemuk, dan laku dijual, kemudian ketika disembelih, badan kamu hanyalah air, dan tak ada isi dagingnya.

Ya, kamu telah menjadi sapi. Bukan padi.
Kalau menurut ketentuan manusiawi, berdasarkan kebiasaan yang sering ditemui pada manusia di daerah-daerah tertentu atas dasar penelitian, semestinya Bung Karno itu berasal dari Minang, dan Bung Hatta itu berasal dari Jawa ataupun Sunda. Tetapi ketentuan demikian ini tidak selamanya benar, karena selain bersifat manusiawi, juga individual sekali, tidak dapat dipukul rata. Walhasil atas diri pribadi Bung Hatta berlaku kaidah yang hidup untuk pohon padi. Makin berisi makin menunduk.

Betapa tidak. Coba perhatikan. Bagi seseorang yang baru pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Bung Hatta, tidak sedikit pun timbul kesan bahwa beliau itu adalah seorang Pemimpin Besar Indonesia yang telah pernah ikut berjuang, mendirikan Negara Republik Indonesia, pendek kata manusia Indonesia yang berjasa besar. Rasa kesombongan dan keakuan tidak nampak pada pribadi beliau. Sangat sederhana dalam segala-galanya. Orang tidak menyangka bahwa manusia yang berada di depannya itu adalah seorang history maker Indonesia di abad ke-20 ini.

Seakan-akan beliau berkata kepada kita, “Saya hanya menjalankan tugas yang dibebankan sejarah kepada diri saya. Dan tugas sejarah tersebut sudah saya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Terserahlah kepada kalian bagaimana menilai hasil karya yang saya lakukan. Untuk itu saya tidak menuntut sesuatu balasan jasa atas apa yang telah saya perbuat untuk tanah air dan bangsa. Bagi saya semua itu saya lakukan semata-mata karena darma bakti saya kepada Ibu Pertiwi Indonesia, lain tidak.” Demikianlah kira-kira pendirian manusia Hatta.

Bagi manusia yang mendambakan hidup keduniawian, apalagi manusia yang segala sepak terjangnya didasarkan kepada ukuran dan nilai materi, maka tipe manusia seperti Bung Hatta dianggap sebagai orang yang “bodoh”. Kenapa? Karena ia adalah seorang pejabat tinggi yang tidak dapat memanfaatkan jabatan dirinya untuk mengumpulkan harta kekayaan untuk pribadi serta keluarganya. Akan tetapi dari segi moral dan agama, maka manusia Hatta adalah manusia Indonesia yang bermoral tinggi, di tengah krisis akhlak yang menimpa kebanyakan manusia Indonesia dewasa ini.

Kita boleh setuju atau tidak setuju kepada pandangan politiknya, kita boleh suka atau tidak suka kepada pribadinya, akan tetapi secara jujur kita harus cukup dewasa untuk mengakui kenyataan bahwa manusia Indonesia seperti Bung Hatta ini sangat sukar dicari dari persediaan yang 145 juta ini. Beliau jujur tetapi sederhana. Bung Hatta berjasa, namun tidak menonjolkan jasa-jasa yang pernah dilakukannya. Beliau memiliki andil besar dalam mendirikan Negara Republik Indonesia ini, akan tetapi Bung Hatta tidak menuntut agar rakyat Indonesia itu menghargai jasanya dan menghormati dirinya. Hanya orang yang mengenal dekat jualah yang akan dapat mengetahui keberhasilan Bung Hatta. Dan orang yang dekat itu sangat sedikit jumlahnya. Beliau tidak sedih ataupun meratap kalau jasanya tiada dihargai.

Akan tetapi Bung Hatta merasa pedih dan sedih apabila nasib rakyat Indonesia semakin sengsara dan menderita hidupnya. Itulah jiwa manusia Hatta. Itulah tipe seorang Pemimpin Rakyat yang sejati. Sayang Indonesia hanya memiliki seorang manusia seperti Bung Hatta ini.

Mudah-mudahan generasi yang akan datang akan dapat banyak belajar dari sejarah hidup dan perjuangan Bung Hatta, salah seorang Putra Indonesia yang besar di abad ini! Ibu Pertiwi Indonesia merasa bangga memiliki seorang putra yang besar seperti Mohammad Hatta ini!

Antara murid dan Guru (sifat murid)

Diceritakan bahwa Ibrahim  Khawas,  ketika  ia  masih  muda,
ingin  mengikuti  seorang guru. Iapun mencari seorang bijak,
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.
 
Sang Bijak berkata. "Kau belum lagi siap."
 
Karena anak muda itu  bersikeras  juga,  guru  itu  berkata,
"Baiklah,  aku  akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut."
 
Murid itu teramat gembira.
 
"Karena kita mengadakan  perjalanan  berdua,  salah  seorang
harus menjadi pemimpin," kata Sang Guru "Kau pilih jadi apa?"
 
"Saya ikut saja, Bapak yang memimpin," kata Ibrahim.
 
"Tentu  aku  akan  memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi
pengikut," kata Sang Guru.
 
Perjalananpun dimulai. Sementara  mereka  beristirahat  pada
suatu  malam  di  padang  pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang
guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya
dari kebasahan.
 
"Tetapi  seharusnya  sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,"
kata Ibrahim.
 
"Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku  melindungimu,"
kata Sang Bijak.
 
Siang  harinya,  anak  muda itu berkata, "Nah ini hari baru.
Sekarang  perkenankan  saya  menjadi  pemimpin,  dan   Bapak
mengikut saya." Sang gurupun setuju.
 
"Saya  akan  mengumpulkan  kayu,  untuk  membuat  api," kata
pemuda itu.
 
"Kau tak boleh melakukan itu; aku yang  akan  melakukannya,"
kata Sang Bijak.
 
"Saya  memerintahkan  agar  Bapak  duduk Saja sementara saya
mengumpulkan kayu!" kata pemuda itu.
 
"Kau tak boleh melakukan hal itu," kata orang bijaksana itu;
"sebab  hal  itu  tidak  sesuai dengan syarat menjadi murid;
pengikut  tidak  boleh  membiarkan  dirinya  dilayani   oleh
pemimpinnya."
 
Demikianlah,  setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid
apa   yang   sebenarnya   makna   menjadi    murid    dengan
contoh-contoh.
 
Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu
dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak  berani  menatap
matanya.
 
"Yang  kaupelajari  itu,"  kata  Sang Bijak, "adalah sesuatu
yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid."
  
 
Catatan;
Ibrahim Khawas ('Si Penganyam Palem') memberi batasan  jalan
Sufi,
"Biarkan  saja  apa  yang  dilakukan untukmu
dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri  apa  yang  harus
kau kerjakan bagi dirimu sendiri."
 
Kisah  ini  menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan
antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang  bagaimana
seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan
tersebut dalam kenyataannya.
 
Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung  zaman
awal,   dan   perjalanan  ini  dikutip  oleh  Hujwiri  dalam
Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar  tertua  yang  masih
ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.