Laman

Rabu, 01 September 2010

TABAYYUN ITU PERLU...!!!

“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanya itu” ( QS Al-Hujuraat :6)


Tabayyun, tabayyun!

Kita diminta berhati-hati jika menerima kabar/berita, terlebih lagi jika yang membawa kabar/berita adalah orang yang fasik. Bentuk kehatia-hatian itu adalah dengan melakukan tabayyun (menyelidiki dan memeriksa dengan teliti) akurasi/ketepatan dan kebenaran berita tersebut. Jika itu tidak dilakukan, maka musibah bisa menimpa kita. Sebab, jika bisa mengambil dan keputusan yang salah karena bersandar kepada data/informasi yang salah.

Untuk lebih memahami konteks ayat diatas, ada baiknya kita memperhatikan asbabul nuzul-nya. Sehubungan dengan ini ada dua riwayat yang dapat dijelaskannya. Kita lihat riwayat yang pertama saja, berikut ini.

Bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat kepada Bani Musthaliq yang mengaku tunduk kepada Rasulullah SAW dan telah memeluk agama Islam.

Sesampai Al-Walid di negeri dituju, maka maksudnya memungut zakat tidak berhasil dengan baik. Lalu Al-Walid segera pulang ke Madinah dan memberi laporan (palsu) kepada Rasulullah SAW bahwa Bani Musthaliq telah murtad dari islam.

Kemudian Rasulullah SAW mengutus Khalid bin Walid bersama sepasukan tentara, dengan peasn bahwa kedatangan rombongan itu jangan membuat heboh, hendaklah didahului dengan penyelidikan yang teliti, dan jangan terburu-buru mengambil sikap keras.

Khalid langsung melaksanakan perintah tersebut dan dia datang ketempat itu pada malam hari, sehingga tidak ada orang tahu. Setelah itu dia mengirim beberapa orang intel/spion menyusup ke negeri lebih dekat dan mendalam.ternyata kabar terdahulu adalah bohong belaka, terbukti dengan tetap berkumandangnya adzan dan mereka menegakkan sholat berjamaah pada waktunya.

Temuan itu oleh khalid segera dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Maka turunlah ayat diatas memberi ingat bahwa jika datang orang fasik membawa berita hendaklah selidiki lebih dahulu dengan seksama. Jangan sampai suatu kaum menderita malapetaka, padahal bukan karena kesalahanya. Sebab jika itu sampai terjadi, maka semua akan menyesal. Pada ayat itu pembawa berita palsu mendapat sebutan hina, yaitu fasik..

CERITA GOKIL


iNem oWhh iNeM ...

KRINGGGGG~~~ KRINGGG~~ ~KRINGGGG~ ~!!!", bunyi telepon.

"Halo, selamat siang", jawab seorang wanita setengah baya.
"Lho, siapa ini?", terdengar sahut suara berat seorang pria.
"Oh, saya pembantu baru di sini Pak. Saya baru kerja. Baru datang siang ini."

"Kalau begitu, Ibu mana?"
"Ibu sedang di kamar tidur Pak."
"Kalau begitu tolong panggilkan."
"Maaf Pak, Bapak siapa yah?"
"Saya suaminya."

"Hah, lha wong Ibu di kamar sama Bapak kok?!", si pembantu kaget
"APAAAA ?!?!?!" si Bapak lebih kaget lagi.
Si pembantu jadi bingung.

"Nama kamu siapa?" tanya si Bapak lagi.
"Nama saya inem, Pak." jawab si Inem dengan gemetar.
"Inem, seperti apa laki-laki yang di kamar dengan ibu?"
"Rambutnya ikal, Pak. Dan pakai kaca mata.", jawab Inem dengan terbata-bata.

"KURANG AJAR !!! Pasti si Johan itu. INEM !!!", teriak Bapak.
"Ya Pak?"
"Coba kamu intip, sedang apa mereka?"
"Aduh Pak, saya ngga berani"
"HEH !!! Saya Tuanmu tau !!! Cepat sana liat !!! Kalau tidak saya pecat kamu."

Dengan lutut gemetar, Inem berjalan sambil mengendap-endap menuju kamar majikannya. Dengan tangan gemetar dibuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui orang yang di dalam. Setelah itu dia melihat keadaan didalam dan langsung ke telpon lagi.

"Halo Pak..."
"Yah, apa yang terjadi disana?" jawab Bapak dengan tidak sabar.
"Anu, Pak..."
"ANU APA ?! CEPAT CERITAKAN !!!" bentak si Bapak.

"Ibu sama laki-laki itu sedang tidur, Pak"
"Cuma tidur?" tanya si Bapak lagi dengan tidak sabar.
"Mereka berdua sedang tidur tapi tidak pakai baju."
"APA ?!?!?! KURANG AJAR !!! SUDAH SAYA DUGA !!!
"DASAR ISTRI SIALAN !!!!", maki si Bapak.

"INEM !!!", panggil si Bapak lagi dengan teriak tentunya.
"Iya Pak"
"Cepat ambil tali dan ikat tangan dan kaki mereka berdua, CEPAT !!!"
"Aduh Pak, kalau ini saya benar-benar nggak berani Pak", jawab Inem dengan suara yang hampir menangis.
"Dasar kamu bodoh !!! Hayo cepat laksanakan nanti saya kasih uang 1 juta" perintah si Bapak dengan tidak sabar.

Karena diiming-imingi uang, timbul keberanian si Inem. Langsung diletakkan gagang teleponnya dan larilah dia ke dapur untuk mencari tali. Setelah didapatkan talinya dengan mengendap-endap Inem masuk ke kamar majikannya. Dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun, pertama dia ikat tangan si Pria lalu kakinya.

Kemudian dia ikat tangan dan kaki si Ibu. Tapi sial, karena gugup tanpa sadar si Ibu terbangun. Melihat Keadaan dirinya yang di ikat, si Ibu teriak: "INEM. APA YANG KAMU LAKUKAN ?! Kamu mau merampok yah ?!"

"Maaf Bu, saya disuruh Bapak." langsung si inem lari ke arah telpon, meninggalkan nyonya majikannya yang berteriak-teriak dengan marahnya dan si Pria yang mulai terbangun juga.

"Pak, sudah saya ikat Pak" lapor si Inem dengan ngos-ngosan.
"Bagus, sekarang ambil kamera di meja kerja saya ..."
"Meja kerja Bapak dimana?", potong si Inem.
"Gimana sih kamu ini. Itu yang di bawah tangga."
"Tangga???" si Inem kebingungan

"Di rumah ini kan ngga ada tangganya, Pak. Nggak ada tingkat.", timpal Inem.

Hening sesaat.

"Berapa nomor telpon ini?", tanya si Bapak
"8902076, Pak", jawab si Inem dengan polos.

"Oh, Maaf ternyata saya salah sambung."
Gubrakkkkkkkkk...si inem langsung jatuh pingsan......

Anjing, Tongkat, dan Sang Sufi


Suatu hari seorang lelaki berpakaian sufi sedang berjalan-jalan. Di tengah jalan dilihatnya seekor anjing yang tanpa sebab dan tanpa alasan dipukulnya keras keras dengan tongkat. Anjing itu meraung kesakitan dan lari kepada guru agung Abu Said. Anjing itu rebah di dekat kaki Abu Said, Sambil terus menjilati lukanya, ia menuntut keadilan atas kekejaman lelaki berpakaian sufi itu.
Orang bijak itu mempertemukan keduanya. Kepada Sufi itu ia berkata, "Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini! Lihatlah hasil perbuatanmu!"
Jawab Sufi itu, "Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku."
Tetapi, anjing itu bersikukuh dengan pengaduannya.
Kemudian, guru tiada banding itu berkata kepada anjing itu, "Daripada menunggu datangnya Pembalasan Terakhir, biarlah kini aku membalas rasa sakit yang kau alami."
Kata anjing itu, "Alangkah luhur dan bijaknya engkau, guru! Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia takkan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, seperti biasa aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Jika guru hendak menghukumnya maka ambillah daripadanya jubah Orang Terpilih itu. Tanggalkan darinya pakaian Orang-orang Saleh ..."
Anjing itu telah mencapai Tingkatan tertentu dalam Jalan Kebenaran. Sungguh keliru anggapan bahwa seorang manusia nisaya iebih baik daripadanya.

'Pengondisian' yang digambarkan dalam kisah ini dengan Jubah Darwis sering disalahartikan oleh kaum esoteris dan agamawan dari berbagi kalangan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman atau nilai yang sesungguhnya. Kisah ini, yang diambil dari karya Attar Divine Book (the Ilahi-Nama) beredar di kalangan para darwis dari "Jalan Kesalahan" (Path of Name), dan dianggap berasal dari Hamdun Si Pengelantang, pada abad ke-19.

MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLaH SWT

Rosululloh S.A.W. telah bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Alloh…”

Dalam kitab Daqo’iqul Akhbar diterangkan bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari Qiamat nanti, dan sangat beratlah timbangan kejahatannya, maka diperintahkan kepada malaikat untuk melemparkannya ke dalam neraka.


Maka salah satu daripada rambut (bulu) mata orang tersebut berkata,
“Wahai Tuhanku, Rosul Engkau Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, barang siapa yang menangis karena takut kepada Alloh S.W.T, maka Alloh mengharamkan matanya masuk ke neraka dan sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepada-Mu.”

Akhirnya Alloh S.W.T. mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis karena takut kepada Alloh S.W.T. Malaikat Jibril A.S. mengumumkan,
“Telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut.”

Dalam kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahwa pada hari Qiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyala apinya sangat mengerikan, semua umat menjadi berlutut karena ketakutan menghadapinya. Alloh S.W.T. berfirman,
“Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah Al-Jatsiyah : 28)

Saat mereka menghampiri neraka, mereka mendengar geraman suara nyala api neraka. Diterangkan dalam kitab tersebut bahwa suara nyala api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga para Nabi dengan ucapan,
“Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Alloh),” kecuali hanya seorang Nabi saja yang berkata, “Umatku, umatku.” Beliau ialah junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W.

Pada masa itu keluarlah gumpalan-gumpalan api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad S.A.W. berusaha menghalanginya dengan berkata,
“Wahai api, demi hak orang-orang yang sholat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyu’, demi hak orang-orang yang berpuasa, kembalilah (mundurlah) engkau !”

Walaupun sudah diseru demikian, api neraka itu tetap tidak mau kembali, lalu Malaikat Jibril berkata,
“Sungguh api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W.”

Kemudian Jibril A.S. membawa semangkuk air dan berkata,
“Wahai Rosululloh, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.” Lalu Rosululloh S.A.W. meraihnya, setelah itu Baginda S.A.W. menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu.

Setelah itu Rosululloh S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S.
“Wahai Jibril, air apakah itu?” Maka Jibril A.S. berkata, “Itu adalah air mata orang-orang yang durhaka (ahli ma’siyat) di kalangan umatmu tetapi mereka menangis karena takut kepada Alloh S.W.T. Aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api neraka itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Alloh S.W.T.

Maka Rosululloh S.A.W. bersabda,
” Ya Alloh anugerahkanlah kami dua buah mata yang bisa menangis karena takut kepada-Mu…”

ya Rabb..
selembar daun yang jatuh,
Engkau tahu dengan pasti,
maka tak pernah kuragukan,
Engkau tahu pasti pula,
selembar hati dan jiwaku,
yang lusuh,
penuh coretan-coretan,
dan gambar-gambar tak beraturan.
Tolong aku Tuhan,
menghapus semua,
karena betapa sulitnya,
jika kulakukan sendirian,
tanpa melibatkanMu.

Ya Rabb...

apalah arti daya dan upayaku,
ketika Engkau tak berkehendak,
karena aku tahu,
tak ada yang bisa menolak,
jika Engkau berkehendak,
dan tak ada yang bisa menerima,
jika Engkau tak berkehendak.
Aku tak ingin sendiri,
menapaki sisa-sisa hidupku,
sertai aku Tuhan,
temani aku,
aku tak sanggup sendiri,
meniti hari-hari yang sepi.

Ya Rabb...

andai pucuk pinus bisa kududuki,
aku ingin selalu ada di sana,
menyepi,
di tempat tertinggi,
agar aku dekat denganMu,
selalu memujaMu,
menjilat manisnya kasihMu,
menghisap bahagia sejati.
jauh dari goda dunia,
yang hanya menipu,
semu,
penuh kepalsuan.
Maka jagalah aku, Ya Allah...

Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak Rasulullah SAW

oleh Muhammad Syahbudin II pada 16 Agustus 2010 jam 17:27
Beberapa waktu setelah Rasulullah wafat, Abubakar RA menemui putrinya Aisyah.Dan terlibatlah mereka dalam percakapan.Abubakar bertanya kepada Aisyah "Ya Aisyah sebutkan kepadaku amalan apadari Rasul yang belum pernah aku kerjakan."R.A Aisyah menjawab " Semua amalan Rasul sudah ayah kerjakan hanya satua malan rasul yang belum pernah ayah kerjakan," jawab Aisyah."Amalan apa ya Aisyah jelaskan kepadaku" tanya Abubakar lagi dengan bersemangat.
Aisyahpun menceritakan bahwa semasa hidupnya Rasulullah selalu pergi ke pasar Medinah dan beliau selalu menjumpai dan memberi makan - sedekah kepada seorang pengemis Yahudi tua.Maka setelah mendengar cerita Aisyah, Abubakar bergegas pergi kepasar Medinah dan segera menemui pengemis Yahudi tersebut.Setelah bertemu dengan pegemis tua itu, Abubakar RA heran karena pengemis Yahudi itu selalu berteriak dan mencaci maki Rasulullah. Namun teringat dengan perkataan Aisyah, Abubakar tetap memberikan makanan kepada pengemis tersebut.Si pengemis menerima makanan tersebut disertai pertanyaan,"Apakah ini tuan yang selalu memberiku makanan?" "Ya ini aku," jawab Abubakar.Pengemis tadi tak percaya lalu katanya, " Tidak mungkin karena tuan yang selalu memberiku makan sangat halus akhlaknya dan beliau selalu menyuapi makanan yang dibawanya kepadaku." Mendengar itu menangislah Abubakar.
Lalu Abubakar pun bertanya kembali, " Ya tuan, kalau memang yang memberi makan engkau itu baik akhlaknya, mengapa engkau selalu mencaci dan meneriakinya?"Si pengemis terkejut, "Jadi yang selama ini memberiku makan dan mengurusi aku itu Muhammad? Kemanakah dia sekarang?"Abu bakar kemudian menceritakan bahwa Rasulullah telah wafat beberapa waktu yang lalu.Mendengar berita tersebut menangislah pengemis Yahudi itu."Jadi orang yang selama ini aku caci dan aku benci adalah orang yang telah berbuat baik kepadaku dan dia tak pernah mengeluh atau marah terhadap makianku.?"Sambil berlinang air mata pengemis tadi berkata kepada Abubakar" Ya tuan...saksikanlah aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah."Abubakar terkesima dan diapun ikut menangis karena terharu akan keislaman pengemis itu serta akhlak Rasulullah yang mulia.."

FILOSOFI RAJAWALI

Rajawali adalah jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia.
Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Untuk mencapai umur sepanjang itu
seekor Rajawali harus membuat KEPUTUSAN yang sangat berat pada umurnya
yang ke-40. Ketika Rajawali berumur 40 tahun, cakar dan paruhnya mulai
memanjang dan bengkok bahkan paruhnya mulai menyentuh dada. Sayapnya
menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal,
sehingga menyulitkannya untuk terbang. Pada saat itu, Rajawali hanya
mempunyai dua pilihan: menunggu kematian atau mengalami suatu proses
transformasi yang sangat menyakitkan, proses transformasi yang
panjangnya 150 hari.




Untuk melakukan transformasi itu,
Rajawali harus berusaha
keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di
tepi jurang, berdiam dan tinggal di sana selama proses transformasi
berlangsung. Pertama-tama Rajawali harus mematukkan paruhnya pada batu
karang hingga paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam
beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru
tumbuh itu, Rajawali harus mencabut satu per satu cakarnya, dan ketika
cakar-cakar baru sudah tumbuh Rajawali akan mencabut bulu badannya satu
demi satu. Proses yang sangat panjang dan menyakitkan. Lima bulan
kemudian, bulu-bulu Rajawali yang baru tumbuh. Rajawali dapat terbang
kembali, dengan paruh dan cakar baru. Rajawali akan menjalani hidup
barunya 30 tahun kemudian dengan energi dan semangat baru.



Dalam
kehidupan ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan,
mungkin sangat berat, untuk memulai suatu proses pembaruan. Kita harus
berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat,
meskipun kebiasaan itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan membuat
kita terlena. Kita harus rela meninggalkan perilaku lama agar mulai
dapat ‘terbang’ lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk
belajar hal baru, kita akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan kita yang masih terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap
masa depan dengan penuh keyakinan.

Halangan
terbesar untuk berubah terletak pada diri kita sendiri. Kitalah sang
penguasa atas diri kita. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan
melayukan semangat kita. Kitalah Rajawali-Rajawali itu. Perubahan pasti
terjadi.

KITA HARUS BERUBAH....!!!!

.
HANYA KEPADA-NYA KU 'KAN BERLARI
DI SAAT KU BIMBANG DALAM HIDUPKU
YANG AKU PERCAYA DALAM HADIRAT-NYA
ADA KEKUATAN YANG BARU

WALAU KU MELANGKAH DALAM TEKANAN
BADAI PENCOBAAN DATANG MENGHADANG
YANG AKU PERCAYA DALAM HADIRAT-NYA
ADA KEKUATAN YANG BARU
.
Hari menjelang Malam..aku bersujud ke pada Mu ya Raab
izinkan aku mendekati Mu ya Raab
Jangan Kau campakan aku dalam murkaMu ya Raab….
aku yg berlumur dosa karena ke jahilan ku…
basuh lah aku dg ampun Mu ya Raab…
selimutilah lah aku dg kasih Mu…..

Aku bersimpuh di hadapan Mu….
bukan meratapi..jalan takdir ku..
Aku bersimpuh di hadapan Mu…
bkn meratapi..kesengsaraan ku…..
Aku bersimpuh di hadapan Mu…
karena aku dahgaakan cinta dan kasih MU

ya Raab..
Dekatlah lah Engkau padaku
wahai…pencipta sekalian alam..
agar tenang jiwa ku……..
agar tentram hidup ku…..
Agar …..damai hatiku…..
Biarkan lah aku tersenyum….
dengan semua ..keputusan Mu….
Sesungguh nya Engkau .
yg Maha mengetahui apa yg terbaik untuk ku….

Ketika seseorang memaafkan orang yang dibenci, seketika itu juga beban emosinya berkurang. Berat-ringannya memaafkan orang itu berkaitan dengan besar-kecilnya rasa kesal atau dendam kita kepada seseorang. Semakin dalam rasa kekesalan,kebencian, dan permusuhan kita kepada seseorang, semakin berat kita untuk memaafkannya. Namun, kalau kita bisa memaafkan, muncul rasa lega dan dada terasa lapang.

...

Malam ini hening….
hanya terdengar suara jangkrik bernyanyi
suara angin membelai daun
berlalunya hari tanpa sebaitpun kata

Aku terdiam merenung dan berfikir
hening…diam…bisu…
kasak kusuk daun memecahkan keheningan itu
hembusan angin mematahkan diamnya malam

Hening itu berganti ketakutan
Purnama menjadikan lagit bermisteri
dan bisunya malam menampakkan kekuatan aneh
hatiku tiba-tiba berdesir…

Ada apa dengan keheningan malam ini?
kenapa sangat tidak bersahabat denganku?

Bosan Hidup tapi akhirnya takut mati..

Bosan Hidup tapi akhirnya takut mati...

oleh Muhammad Syahbudin II pada 18 Agustus 2010 jam 17:45
Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, "Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."
Sang Ustad pun tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian ujar sang Ustad.
"Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang Ustad.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, "Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?"
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
" Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini ".
Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini......

Misteri Gunung Lawu





Misteri Gunung Lawu

oleh Muhammad Syahbudin II pada 27 Agustus 2010 jam 2:18
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang umbul itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi itupun sampailan di puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening dan melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bagaimana mungkin ini terjadi Sang Prabu? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.